Pengantar
Pelatihan penulisan karya tulis ilmiah-khususnya bagi mahasiswa-sudah sering dilaksanakan. Kesulitan-kesulitan
ataupun kendala dalam hal teknik penulisan karya ilmiah yang sering
dialami para mahasiswa setidaknya sudah banyak dibicarakan dalam forum
pelatihan-pelatihan tersebut. Namun, berdasar pada pengalaman di
lapangan-khususnya dalam event
perlombaan-yang dibutuhkan tidak sebatas pada bagaimana karya tulis itu
berkualitas sehingga bisa tampil menjadi juara. Hal lain yang tidak
kalah penting adalah bagaimana strategi untuk mempresentasikan karya
tulis tersebut supaya bisa menculik perhatian para juri dan juga hadirin
yang menyaksikan.
Bisa jadi, secara kualitas sebuah
karya tulis dapat dikatakan sudah sangat bagus, tetapi karena dalam hal
mempresentasikannya tidak bagus, nilai lebih yang ada pada karya tulis
tersbeut menjadi tidak kelihatan, malah bisa saja sebaliknya: menjadi
kelihatan tidak bagus. Selain itu, tidak sedikit para mahasiswa yang
merasa gamang saat menghadapi ujian skripsi karena takut
mempresentasikan skripsi karya mereka ataupun saat hendak menghadapi
pertanyaan dari para penguji. Berdasar pada pemikiran tersebut,
pelatihan yang menitikberatkan pada strategi mempresentasikan karya
tulis ilmiah perlu untuk dilakukan.
Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan
Mempresentasikan
karya tulis ilmiah pada dasarnya adalah melakukan komunikasi. Dalam
presentasi, kita berkomunikasi dengan audiens atau pendengar untuk
menyajikan hal-hal atau materi yang sudah kita tulis. Komunikasi di sini
tidak saja bagaimana informasi yang kita miliki sampai kepada
pendengar, tetapi lebih dari itu: audiens merasa tertarik dengan apa
yang kita sampaikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
kaitannya dengan presentasi ini adalah sebagai berikut;
- Auidiens/pendengar presentasi.
- Durasi waktu yang disediakan untuk presentasi.
- Materi presentasi.
- Pelaksanaan presentasi.
- Auidiens/pendengar presentasi.
Dalam pelaksanaan
presentasi, keberadaan peserta/pendengar presentasi sangat penting.
Presentasi di depan orang yang mengerti hal-hal yang bersifat teknis,
misalnya dalam sidang skripsi, tesis, disertasi, atau presentasi di
depan juri, tentu berbeda dengan presentasi di depan masyarakat umum
yang cenderung lebih mnykai hal-hal yang bersifat praktis dan tidak suka
hal-hal yang bersifat detail. Orang yang mengerti teknis akan merasa
kesal apabila penjelasan kita terlalu bertele-tele kepada hal-hal yang
tidak esensial dan bahkan berkesan menggurui. Sementara masyarakat
umum-apalagi dengan latar belakang yang beragam-akan bosan dan bingung
jika kita menggunakan istilah teknis atau hal-hal yang terkesan detail
dan njlimet.
Singkatnya, kita tidak bisa memukul rata gaya presentasi kita pada
setiap kesempatan untuk melakukan presentasi. Kenali siapa audiens dalam presntasi kita sehingga kita lebih bisa menyesuaikan dengan kondisi mereka (audiens).
- Durasi yang disediakan untuk presentasi.
Seringkali, para presenter (orang yang melakukan presentasi) merasa kebingungan dalam melakukan presentasi
karena waktu yang disediakan untuk presentasi sangat terbatas. Sebagai
contoh, sebuah karya tulis disusun dalam seratus halaman, kemudian waktu
yang tersedia untuk mempresentasikan karya tulis tersebut hanya sepuluh
menit. Hal ini tentu membutuhkan srategi tersendiri supaya dengan waktu
yang terbatas tersebut hal-hal penting yang ada dalam karya tulis
tersebut bisa tersampaikan dengan baik.
Penguasaan
waktu merupakan hal yang penting. Bisa jadi, seorang pembicara sebuah
seminar sebenarnya memiliki reputasi dan kualitas yang bagus, tetapi
karena kurang cerdas dalam mengendalikan waktunya, biasanya alokasi yang
disediakan tidak cukup, menjadi molor
sehingga memberi dampak negatif. Dampak negatif ini akan dirasakan oleh
audiens, pembicara lain (jika lebih dari satu pembicara), penguji, dan
panitia (jika ini terjadi dalam sebuah seminar). Jadi, kecerdasan
seorang presenter tidak sebatas pada bagaimana cara menyampaikan materi
atau penguasaan materi, tetapi lebih dari itu adalah bagaimana ia
mengendalikan waktu.
Jika
seorang presenter malakukan presentasi lebih cepat dari durasi yang
disediakan, kesan yang ditangkap oleh audiens adalah presenter tersebut
kurang menguasai materi dan terkesan kurang
percaya diri (minder sehingga ingin cepat selesai). Namun, jika melebihi
waktu yang disediakan, juga tetap berdampak tidak bagus. Kesan yang
ditangkap adalah seorang presenter ini sok tahu, suka menggurui, dan
terlalu bertele-tele. Lain halnya jika seorang presenter dapat
memanfaatkan waktu yang disediakan secara pas/tepat. Kesan yang didapat
adalah cerdas memanfaatkan waktu, tidak berlebihan dalam berbicara, dan
juga tidak minder. Meskipun, tentu hal ini tidak bisa dicapai secara
instan, perlu latihan yang intens.
- Materi Presentasi
Materi
yang dimaksud di sini ada dua hal, yaitu materi karya tulis ilmiah
secara keseluruhan dan materi untuk keperluan presentasi. Sebelum
melakukan presntasi, kita pastikan bahwa materi secara tertulis sudah
siap, baik dari segi penulisan maupun dari segi kualitas isi. Jangan
sampai kita mempresentasikan sebuah karya tulis ilmiah yang belum
tuntas kita tulis. Materi yang sudah kita persiapkan tersebut harus kita
kuasai secara mendalam, yakinkan bahwa kita adalah satu-satunya orang
yang paling mengerti apa yang sudah kita tulis. Hal ini penting untuk
mempersiapkan mental saat menghadapi pertayaan-pertanyaan yang akan
diajukan. Lebih bagus lagi jika kita juga mengusai hal-hal lain yang
tidak secara langsung berkaitan dengan materi tersebut. Hal ini untuk
mengantisipasi jika ada pertanyaan-pertanyaan di luar yang kita tulis
meskipun masih berhubungan. Jadi kita tidak sekadar terkungkung pada
satu fokus hal yang kita tulis, tetapi mempunyai wawasan yang lebih
luas.
Selanjutnya
kita juga harus menyiapkan meteri untuk presentasi. Hal-hal apa yang
hendak kita presentasikan harus kita sesuasikan dengan audiens dan
alokasi waktu. Secara teknis, beberapa hal yang perlu dipersiapkan,
antara lain: Materi presentasi (slide dan handout atau makalah yang akan dibagikan); komputer, notebook, atau perangkat elektronik yang digunakan; percobaan
presentasi untuk menghitung lamanya waktu presentasi. Perhatikan bahwa
materi presentasi dapat dibaca dengan mudah oleh pendengar (lebih
lengkap akan dijelaskan pada sesi tersendiri oleh lain pembicara).
Hal
yang sangat penting adalah bagaimana memilih hal mana saja yang akan
pilih untuk kita presentasikan sehingga kita nanti bisa memanfaatkan
waktu yang singkat untuk menjelaskan sesuatu yang tepat. Maksudnya,
jangan sampai karena niat kita untuk memanfaatkan waktu kemudian kita
bicara tidak tuntas, belum pada pokok persoalan yang seharusnya kita
presentasikan. Strateginya, poin-poin utama yang penting dalam karya
tulis kita saja yang kita pilih untuk presentasikan dan kita sampaikan
dengan bahasa yang ringkas. Jika tidak demikian, maka kemungkinan ada
hal yang seharusnya kita sampaikan tetapi justru terlewat, atau
sebaliknya, hal yang sebenarnya tidak perlu kita sampaikan tetapi justru kita sampaikan dalam waktu yang lama.
- Pelaksanaan Presentasi
Setelah persiapan sudah kita lakukan secara matang, tiba saatnya kita
menjalankan rencana yang telah kita siapkan: melakukan presentasi.
Dalam melakukan presentasi, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut.
- Kondisi fisik.
- Segala perlengkapan presentasi sudah siap.
- Ketepatan waktu.
- Pengetahuan audiens.
- Tips dalam menghadapi pendengar dan menjawab pertanyaan.
Berdasar
pengalaman, hal yang sering menjadi ‘ketakutan’ para presenter adalah
kesiapan menghadapi audiens dan ketika menjawab pertanyaan. Lebih
spesifik misalnya dalam ujian skripsi atau ketika presntasi di hadapan
juri sebuah kompetisi. Tidak sedikit yang kurang siap mental sehingga
hal ini bisa merusak segala rencana. Karena
kekurangsiapan mental, bisa jadi segala meteri yang kita kuasai akan
hilang. Arah bicara kita tidak jelas, tubuh gemetar, bahkan tidak sadar
dengan alokasi waktu yang disediakan. Jadi, mempersiapkan mental adalah
hal utama yang perlu disiapkan dalam presntasi, khususnya bagi mereka
yang jarang atau bahkan belum pernah melakukan presentasi.
Ada beberapa tips
yang dapat kita terapkan. Hendak memulai presentasi, bagaimana
seharusnya kita membukanya? Pembuka sebenarnya bergantung kepada bentuk
acara, pendengar, dan kebiasaan yang berlaku di tempat tersebut. Untuk
acara seminar yang dihadiri oleh mahasiswa, kata pembukaan bisa sedikit
santai. Namun untuk ujian skripsi dengan penguji yang terbatas, biasanya
lebih formal dan tidak perlu banyak basa-basi. Kebiasaan
setempat juga menentukan kata pembukaan. Pembukaan seperlunya saja
supaya tidak memakn waktu yang tersedia, tetapi dengan waktu yang
singkat itu kita dapat memberikan kesan pertama yang positif pada
audiens.
Ketika menjelaskan sebuah slide, kadang-kadang (tidak selalu) kita perlu menunjuk sesuatu di layar. Tunjukkan bagian itu dengan pointer, laser pointer,
atau jika terpaksa dengan telunjuk (tidak apa-apa). Jangan hanya
mengatakan “seperti ini” atau “seperti itu" tanpa menunjukkan mana yang
dimaksud dengan ini atau itu. Ada juga seorang presenter yang matanya
selalu terpaku pada slide yang ada di komputer atau laptop sehingga dia
tidak tahu bahwa proyeksi di layar (yang terlihat oleh pendengar)
miring-miring atau bahkan posisi slide terlalu bawah sehingga tidak
dapat dilihat oleh pendengar.
Sebaiknya, pada saat presentasi (jika kita berdiri) jangan
terlalu sering untuk membelakangi pendengar. Seringkali, jika seseorang
merasa canggung, ia memilih untuk hanya melihat layar dan membelakangi
pendengar seolah-olah dia takut bertatap muka dengan pendengarnya. Perhatikan
raut wajah dari para pendengar. Apakah mereka sudah bosan? bingung?
tersenyum? Jadikan ini menjadi umpan balik bagi strategi presentasi
kita. Jadi, kita sadar diri dengan kondisi yang tengah terjadi, apalagi
dalam sebuah kompetisi, segala sesuatu yang ada pada diri kita dinilai,
tentu harus lebih diperhatikan.
Ketika memberikan presentasi, kita harus convincing atau meyakinkan. Bagaimana
pendengar akan percaya dengan apa yang kita presentasikan jika kita
sendiri kelihatannya tidak percaya? Namun, juga jangan sampai menjadi
berkesan terlalu arogan atau sok tahu. Dalam menghadapi pertanyaan, kita
dengarkan dahulu pertanyaannya. Kalau perlu, catat dahulu pertanyaan
tersebut. Jangan cepat-cepat ingin menjawab atau bahkan memotong
pertanyaan pendengar, kecuali kita merasa penanya ini terlalu
berlarut-larut dalam mengutarakan pertanyaannya. Sering kali orang
berputar-putar dan tidak to the point dalam mengutarakan pertanyaan. Menunggu penanya selesai juga memberikan waktu kepada kita untuk memikirkan jawabannya.
Jangan
pernah ngotot dengan penanya. Kita boleh saja berbeda pendapat. Jika
ada penanya yang ngotot, kemudian kita sudah menjelaskan tetapi dia
tetap ngotot, maka kita sepakati saja bahwa kita dan sang penanya
berbeda pendapat.
Penutup
Sedikit catatan ini barangkali belum sepenuhnya
bisa mengatasi beragam kendala saat melakukan presentasi. Permasalahan
yang sering timbul berkaitan dengan pelaksanaan presentasi tentu beragam
dan berbeda-beda antarpresenter. Namun, catatan ini setidaknya
mengingatkan pada kita semua untuk tidak hanya mementingkan bagaimana
kualitas karya ilmiah secara isi dan penulisan, tetapi juga
memperhatikan bagaimana strategi untuk mempresntasikan karya tulis
tersebut sehingga karya tulis yang sudah bagus tersebut jika
dipresentasikan akan tetap bagus. Semoga bermanfaat.